Jumat, 13 Juni 2014

AMX-13 Retrofit TNI AD: Tetap Andalkan Meriam dengan Kubah Osilasi



Bila Korps Marinir TNI AL punya tank legendaris PT-76, maka kavaleri TNI AD punya padanannya, yakni tank ringan AMX-13. Keduanya diboyong ke Tanah Air dalam periode yang sama, saat Indonesia tengah menyongsong operasi Trikora di awal era 60-an. Seperti halnya PT-76, nasib AMX-13 nyatanya tak lekang ditelan jaman, justru usia senja kedua ranpur terus diperpanjang lewat retrofit dan modernisasi sistem senjata.

Lebih khusus tentang AMX-13, namanya begitu familiar di lingkungan pemerhati alutsista. Pasalnya inilah tank utama TNI AD hingga empat dekade, sebelum akhirnya TNI AD mendatangkan generasi tank ringan Alvis Scorpion dari Inggris pada 1995. Dengan kuantitas yang cukup besar, disebutkan ada 400-an unit AMX-13 di lingkungan TNI AD dalam beragam versi (Wikipedia menyebut TNI AD punya 275 AMX-13 versi kanon), membuat tank ini terus diupayakan untuk operasional hingga 20 tahun kedepan. Meski beberapa unit sudah dipajang sebagai monumen di beberapa kesatuan, tak menyurutkan TNI AD untuk memordenisasi tank besutan Perancis ini.

Bicara soal retrofit di AMX-13, sudah dilakukan beberapa tahap oleh TNI AD. Seperti pada tahun 1995, Direktorat Peralatan Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD meretrofit dengan pemasangan mesin Detroit Diesel DDA GM6V-53 T, 6 silinder 2 langkah turbocharged dengan daya 290 BHP/2800 RPM dan Torsi 91,67 KGM/1600 RPM yang mampu meningkatkan power weight ratio dan pemakaian bahan bakar lebih hemat. AMX-13 retrofit tahun 1995 ini menggunakan transmisi otomatis ZF 5WG-180 dengan 5 percepatan maju dan 2 percepatan mundur, hal ini tentu lebih memudahkan pengoperasian tank. Untuk suspensi mengadopsi tipe hydropnematic “Dunlostrut”, meningkatkan kemampuan lintas medan dan mampu menambah kenyamanan awak tank. Retrofit ini berlanjut tahun 2011, sekitar 50-an lebih AMX-13 mengalami retrofit kembali di PT Pindad Bandung. Ini artinya masih lebih banyak AMX-13 TNI AD yang belum di retrofit.

Standar AMX-13 menggunakan mesin SOFAM 8Gxb yang memiliki 8 silinder dan berpendingin air dan berbahan bakar bensin, mampu menyemburkan daya 270 bhp pada 3.200 rpm sehingga AMX-13 dapat mencapai kecepatan maksimal 65km/jam. Konsumsi bensin inilah yang dipandang memberatkan dalam sisi operasional.

Barulah pada awal 2014, prototipe AMX-13 retrofit berhasil dirampungkan dan sosoknya telah dipublikasikan. AMX-13 hasil retofit terbaru ini memiliki tampang yang sedikit berbeda dengan aslinya. Untuk hull misalnya, terpaksa ditambah panjang sekitar 20 cm untuk mengakomodir mesin anyar. Mesinnya sendiri memakai produk Navistar dari Amerika Serikat dengan daya sebesar 400HP.

Retrofit Sistem Senjata, Bertahan di Kubah Osilasi
Tentu akan terasa ganji bila retrofit hanya dilakukan pada sisi mesin, sistem senjata nyatanya harus mendapat porsi yang sama. Ambil contoh PT-76 Marinir TNI AL, yang aslinya menggunakan meriam kaliber 76 mm, kemudian di upgrade dengan meriam Cockerill kaliber 90 mm. Nah, pada AMX-13 kasusnya agak beda. Kaliber maksimum pada meriam tidak ditingkatkan, jenis kubah pun masih sama, yakni dengan model osilasi. Hanya bedanya, sistem bidik pada meriam sudah diremajakan sesuai kebutuhan operasi.

Sistem senjata pada kubah telah dicangkokkan sistem kendali penembakan (FCS/Fire Control System) modern yang sudah memasukkan input dari sistem Laser Range finder (LRF) untuk memastikan jarak antara tank ke sasaran. Dikutip dari situs arc.web.id, disebutkan sistem FCS yang digunakan bukanlah standar kubah FL-12 yaitu SOPTAC-18 buatan firma Sopelem, tetapi merupakan FCS modern buatan salah satu negara Eropa Barat. Bahkan untuk pengemudi pun disediakan sistem pengemudian berbasis LCD yang menginkorporasikan kamera FLIR/Thermal untuk melancarkan navigasi pada kondisi gelap malam.

Untuk amunisi mengadopsi jenis HE (high explosive) buatan firma Hinterberger dan OCC105G1 yang merupakan amunisi APFSDS (Armor Piercing Fin Stabilised Discarding Sabot) untuk menjebol tank lawan. Berdasarkan data pabrikan, amunisi OCC105G1 mampu menembus lapisan baja RHA setebal 250mm pada kemiringan 30o dari jarak 1.000m, atau kurang lebih cukup untuk melalap ranpur/ tank medium dari segala sudut.

Kubah Osilasi
Bagi kami, hal yang unik dan menjadiciri pada AMX-13 adalah penggunaan kubah osilasi (oscillating turret) tipe FL (FL-10, FL-11, dan FL12) buatan Fives Babcock Cail. Dan kini AMX-13 menjadi satu-satunya tank operasional di dunia saat ini yang menggunakan sistem ini. Kubah osilasi tersebut sebenarnya amat sederhana, dimana ada dua bagian utama yang bekerja. Bagian pertama yaitu struktur pendukung, menempel ke cincin kubah sebagai pendukung dua trunnion yang menjepit laras meriam. Trunnion ini bisa dinaik-turunkan, didongakkan dan ditundukkan, sementara posisi dudukan meriamnya sendiri relatif tetap.


Sementara bagian kedua yaitu kubah diatasnya menaungi meriam, sistem pengisi otomatis, perangkat pengendali tembakan, radio, dan kursi untuk awak pengisi dan komandan. Kunggulan kubah osilasi ini adalah desain yang sederhana, sehingga memudahkan sistem pengisi otomatis yang ditanamkan di bagian belakang AMX-13. Dengan kubah osilasi, posisi dari pengisi munisi otomatis selalu sejajar dengan lubang peluru (breech) pada kanon AMX-13.


Revolver Dua Silinder Amunisi AMX-13

Silinder Amunisi
Kelemahannya sudah jelas, sudut dongak dan tunduk laras kanon menjadi sangat terbatas. Keunggulan lain sistem osilasi membuat laras kanon tidak membutuhkan bukaan di depan kubah/ mantlet seperti pada desain konvensional sehingga meminimalkan kemungkinan penetrasi munisi lawan pada bagian yang lemah tersebut.

Sistem pengisi otomatis AMX-13 ditempatkan pada bagian belakang kubah (bustle), yang terdiri dari dua silinder yang masing-masing mampu menampung enam butir peluru. Tiap silinder diletakkan di sisi jalur gerak breech ke arah belakang. Saat kanon menyalak dan bergerak ke belakang, silinder magasen ini berputar, yang kemudian melepaskan sebutir peluru yang kemudian meluncur ke pelat pengisi yang membawanya sejajar dengan kamar peluru, lalu didorong kedalam. Saat ditembakkan, kelongsong peluru dilontarkan melalui lubang bulat di belakang bustle. Dengan 12 peluru terisi, AMX-13 dapat menembak secara terus-menerus, menjadi tank pendobrak yang memiliki daya gempur luar biasa. Sayangnya, begitu amunisi di revolver munisi habis, AMX-13 harus ditarik mundur karena pengisian pelurunya harus dilakukan secara manual.

TNI AD mempunyai dua tipe AMX-13 versi kanon, yaitu AMX-13 dengan meriam kaliber 105 mm dan AMX-13 dengan meriam kaliber 75 mm. AMX-13 dengan meriam 75 mm menggunakan kubah versi FL-11. Kubah ini dikembangkan pada tahun 50-an, dan digunakan untuk misi di Afrika Utara. Selain AMX-13, ranpur lain yang menggunakan kubah ini adalah Panhard EBR yang juga pernah digunakan oleh kavaleri TNI AD. Sementara AMX-13 dengan meriam 105 mm menggunakan kubah versi FL-12, versi kubah FL-12 inilah yang tetap dipertahankan dalam retrofit terkini AMX-13.

Tank Ideal Untuk Postur Orang Asia
Karena batasan bobot yang dibuat untuk AMX-13, maka hal ini membawa konsekuensi pada mungilnya dimensi AMX-13. Akibatnya, awak AMX-13 tidak boleh memiliki tinggi badan lebih dari 180 cm, dan kompartemen tempur AMX-13 pun terasa sempit. Mengenai tinggi badan awak yang tak boleh lebih dari 180 cm tentu membawa angin segar bagi operator di Asia, maklum rata-rata memang tubuh orang Asia lebih kecil daripada postur orang Eropa.


Begitu pun dengan pengemudi yang duduk didalam hull ataupun komandan dan penembak, semuanya nyaris tak memiliki ruang gerak yang memadai. Andalan untuk melihat keluar hanya ada pada 8 periskop untuk komandan, atau teropong bidik L961 dengan pembesaran 1,5x-6x. Untuk juru tembak tersedia teropong bidik L862 dengan pembesaran 7,5x. Kanon AMX-13 sendiri menggunakan kanon yang diadaptasi dari kanon PzKpfw V Panther, tank Jerman dalam PD II.

Jika Panther menggunakan meriam L70, AMX-13 menggunakan meriam serupa dengan kaliber L61.5 (lebih pendek) dan amunisinya menyatu dengan propelan. Untuk dekade 1950an, daya penetrasinya yang sedalam 70 mm pada inklinasi 60o pada jarak 1.000 meter dianggap masih cukup mumpuni untuk melibas tank dan ranpur pada jaman tersebut. Senapan mesin koaksialnya menggunakan senapan mesin Model 1913E kaliber 7,5 mm. Kanon AMX-13 dikendalikan oleh sistem hidrolik untuk elevasi dan traversi, yang memiliki dua setelan kecepatan dan dapat dikendalikan oleh komandan serta juru tembak. Total AMX-13 dapat membawa 36 butir peluru cadangan, 21 didalam kubah dan 15 di hull, dipandang cukup untuk 3 kali pengisian ulang revolver kanon.

Sejarah Pengembangan
AMX-13 sejarahnya di kembangkan oleh pabrikan Atelier de Construction d’Issy-les-Moulineaux (AMX) di tahun 1946 selain untuk memenuhi kebutuhan angkatan bersenjata Prancis, pembuatan tank ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa Prancis masih mampu mandiri membangun industri perang dalam negeri walaupun habis porak-poranda akibat dari perang dunia II. AMX-13 dibuat untuk linud agar mudah dipindahkan lewat udara, penunjukkan 13 sendiri awalnya menandakan bobot total tank yang mencapai 13 ton sehingga dinamakan AMX-13.

Karena pengembangan ini dibilang sangat lancar dan mulus maka purwarupa pertama muncul pada tahun 1948 dan mulai diproduksi masal mulai tahun 1951, walaupun pada akhirnya bobot tempur AMX-13 sendiri pada finalnya membengkak menjadi 14,5 ton. Karena merupakan tank ringan yang berbobot 14 ton AMX-13 hanya memiliki ketebalan armour mencapai 10-40 mm dan mampu menahan dari segala sisi pecahan peluru artileri dan peluru kaliber 12,7mm. (Bay/dikutip dari berbagai sumber)

Spesifikasi AMX-13
Tipe : tank ringan
Produsen : Atelier de Construction d’Issy-les-Moulineaux
Berat tempur : 14.5 ton
Panjang : 6.35 meter
Lebar : 2.51 meter
Tinggi : 2.35 meter
Awak : 3 orang (komandan, penembak dan pengemudi)
Senjata Kanon : 75 mm / 90 mm / 105 mm – 75 mm dengan 32 amunisi.
Senapan mesin : kaliber 7,62 mm dengan 3600 peluru
Mesin : SOFAM Model 8Gxb 8-cyl. water-cooled petrol250 hp (190 kW) – kini sudah dilakukan upgrade dengan mesin diesel buatan Detroit.
Suspensi : torsi bar
Jarak tempuh : 400 km
Kecepatan : 60 km per jam


Video: Separatis Ukraina Hidupkan Kembali Tank Soviet tahun 1943

Separatis di timur Ukraina mencoba menghidupkan kembali tank tua Soviet tahun 1943. Tank ini adalah tank IS-3 yang merupakan tank monumen peringatan Perang Dunia II terkait perjuangan Ukraina meraih kemerdekaan. Sudah berpuluh-puluh tahun tank ini 'duduk' di atas alas batu sebagai monumen di kota Kostiantynivka, kantor berita ITAR-Tass Rusia melaporkan pekan lalu.

"Pengrajin kami telah berhasil menghidupkan kembali mesin tank IS-3 yang duduk sebagai monumen di taman," disebutkan ITAR-Tass (mungkin mengutip pernyataan langsung kelompok tersebut). "Tank sedang dipersiapkan dan akan segera dilibatkan dalam pertempuran," lanjut ITAR-Tass.

IS-3 mengusung meriam 122mm dan di masa jayanya bisa melaju dengan kecepatan 35 km per jam di jalanan beraspal, menurut ITAR-Tass.

Video yang beredar di Youtube ini menunjukkan bahwa tank 12 silinder dengan mesin berkekuatan 520 tenaga kuda ini jelas masih memerlukan beberapa perbaikan sebelum bisa melenggang keluar dari taman. Mesin yang berdecit, suara yang keras, dan kepulan asap ibarat aksi fogging petugas kesehatan memberantas nyamuk demam berdarah seharusnya diperbaiki dulu agar tidak minder berhadapan dengan Oplot Ukraina. 






2 Pesawat Tempur Harrier AS Jatuh dalam 1 Bulan, Tidak Mengherankan



Sebuah pesawat tempur AV-8B Harrier jatuh menghancurkan tiga rumah penduduk di Imperial, California,  4 Juni 2014. Bulan lalu, Harrier lainnya juga jatuh di selatan gurun Phoenix Amerika Serikat. Kedua pilot berhasil selamat dan tidak mengalami cedera.

Harrier sebenarnya adalah salah satu pesawat yang dirancang dengan desain cerdik, namun mengingat sejarah kegagalan panjangnya, kecelakaan dua Harrier dalam satu bulan baru-baru ini tidaklah mengherankan.

Dikembangkan pada 1960-an, kemampuan Harrier luar biasa karena bisa melayang-layang di udara layaknya helikopter. Mesin jetnya memompa udara melalui empat nozel, dua pada tiap sisi pesawat, tepat di bawah sayap yang akan berputar untuk mendorong pesawat ke depan atau naik ke atas, membuatnya mampu lepas landas pada jarak yang sangat pendek dan mendarat secara vertikal. Harrier dapat dioperasikan pada lahan hutan yang baru dibuka, lokasi pendaratan yang dirancang untuk helikopter, atau bahkan di tengah kota sekalipun.

Harrier dikembangkan oleh Inggris dan dibeli oleh Korps Marinir Amerika Serikat, satu-satunya kecabangan militer AS yang mengoperasikannya. Korps Marinir AS mulai menggunakan Harrier pada tahun 1971, selanjutnya perusahaan McDonnell Douglas (sekarang Boeing) mengambil alih produksi Harrier.

Harrier yang pertama, AV-8A memiliki catatan keamanan yang mengerikan; lebih dari setengah pesawat telah jatuh. Harrier generasi kedua AV-8B, diproduksi oleh Boeing, mulai digunakan pada tahun 1985. Versi baru ini sedikit lebih aman, namun dibandingkan pesawat-pesawat tempur lain rekornya masih buruk. Menurut laporan LA Times pada tahun 2002, rasio AV-8B Harrier mengalami kecelakaan adalah 11,44 pesawat per 100.000 jam terbang, dibandingkan rasio kecelakaan F/A-18 Hornet yang hanya 3 unit. -Beberapa jam setelah Harrier jatuh di Imperial, sebuah F/A-18E Super Hornet juga jatuh ke laut ketika mencoba mendarat di kapal induk USS
Carl Vinson.- Antara tahun 1971 sampai 2002, 45 marinir pilot AS telah tewas dalam 143 kecelakaan non tempur ketika menggunakan Harrier.

Saat ini Korps Marinir AS mengoperasikan 131 unit Harrier, pesawat yang kurang mereka sukai. Semakin vertikal Harrier lepas landas, maka beratnya juga harus dikurangi, jadi untuk melakukannya para kru harus mengurangi bahan bakar atau senjata yang dibawanya. Kurangnya bahan bakar berarti jangkauannya kurang dan kurangnya senjata berarti kemampuan tempurnya juga menurun. "Ini bukan pesawat yang baik," ujar Pete Field, konsultan penerbangan yang menjabat sebagai perwira di Korps Marinir dan pilot test
Angkatan Laut AS.

Harrier seharusnya sudah digantikan dengan F-35B STOVL, pesawat tempur tercanggih buatan Lockheed Martin yang menjanjikan kecepatan supersonik, kemampuan siluman, dan super manuver. F-35B adalah salah satu varian F-35 yang mampu lepas landas jarak pendek dan mendarat secara vertikal layaknya Harrier. Yang menjadi masalah, pengembangan F-35 telah benar-benar menguras anggaran dan molor diluar jadwal. Jadi Korps Marinir AS saat ini masih terjebak dengan Harrier.

Dalam mode cruise, Harrier terbang layaknya pesawat biasa. Pada kecepatan lambat, disinilah letak kelebihan sekaligus kekurangannya. Pilot dapat mengarahkan nozel ke bawah untuk menghasilkan daya angkat, tapi bukan berati mudah untuk menjaga Harrier agar tetap stabil.

Kolonel Bill Lawrence (Purn), pilot test Korps Marinir dan Angkatan Laut AS yang telah menerbangkan 130 jenis pesawat mengungkapkan pengalamannya dalam menerbangkan Harrier. menurut Lawrence, jika Harrier sudah mulai bergulir/miring, maka pesawat ini bisa dengan cepat keluar dari kendali. Menonton video-video uji penerbangan Harrier, maka kita bisa melihat pilotnya sangat mengalami kesulitan dalam menjaganya agar tetap sejajar dengan tanah.

Pilot Harrier harus memperhitungkan sudut nozel dengan benar, juga memperhitungkan kecepatan angin dan kondisi landasan pacu. Mereka juga harus berurusan dengan reaction control system, serangkaian nozel yang digunakan untuk menjaga kestabilan pesawat. Nozel pada hidung Harrier akan menyemburkan udara ke bawah, dan dua pada ujung sayap akan mengarahkan ke bawah atau ke atas dan satu pada bagian ekor akan menyemburkan udara ke bawah, ke kanan atau kiri.

Pada Harrier generasi pertama, semua kontrol atas nozel itu berbasis dasar tuas. Hal ini membuat pekerjaan pilot menjadi lebih banyak, terutama bagi pilot yang 'dibesarkan' dengan pesawat konvensional dan harus menyesuaikan diri dengan aerodinamis seperti helikopter. Generasi Harrier berikutnya AV-8B sudah dilengkapi kontrol penerbangan digital yang membuat pekerjaan pilot lebih sederhana, namun kecelakaan masih terus terjadi. (Original article by Alex Davies from Wired) artileri.org

Mengapa Rusia Membeli Kapal Perang dari Perancis dan Mengapa Perancis Menjualnya?

Rusia membeli dua kapal serbu amfibi Kelas Mistral dari Perancis. Satu kapal sudah diluncurkan pada Oktober lalu dan akan dioperasikan Angkatan Laut Rusia pada November tahun ini, dan kapal lainnya akan diluncurkan pada Oktober tahun ini dan akan memperkuat Angkatan Laut Rusia pada  2015.

Mengapa Perancis menjual kapal perang ke Rusia yang notabene seteru NATO dan mengapa pula Rusia membeli kapal perang dari Perancis? Hal ini menjadi hal yang cukup sulit dipahami oleh negara-negara NATO lainnya.

Mistral adalah kapal serbu amfibi canggih yang mampu mengangkut hingga 900 tentara, satu batalyon tank Leclerc, 16-35 helikopter dan empat kapal pendarat tank. Mistral lengkap dengan berbagai kemampuan dan akan memainkan peran besar dalam operasi serbu amfibi. Bahkan selain tugasnya sebagai platform tempur, di dalamnya juga terdapat rumah sakit yang siap melayani 25.000 penduduk kota.

Dengan berhati-hati, NATO menyebutkan bahwa penjualan kapal perang ini kepada Rusia bukanlah atas rekomendasi NATO, melainkan murni keinginan Perancis. Pernyataan Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen pada 8 April lalu menyebutkan bahwa keputusan Perancis ini pasti sudah melalui pertimbangan yang matang.

AS tentu tidak senang ada negara yang mempersenjatai Rusia dengan senjata canggih, apalagi itu berasal dari negara NATO. Pernyataan Presiden Barack Obama yang dikutip oleh Voice of Russia mengatakan bahwa: "Saya telah menyatakan beberapa kekhawatiran, dan saya tidak sendirian dalam hal ini, tentang penawaran pertahanan yang signifikan dengan Rusia pada saat mereka telah melanggar hukum dasar internasional, dan integralitas teritorial dan kedaulatan tetangga mereka." Tidak lain maksud pernyataan Obama ini adalah soal tindakan Rusia yang menginvasi Ukraina.

Negara-negara Baltik - Lithuania, Latvia, dan Estonia yang dulunya bagian Uni Soviet dan sekarang anggota NATO - dan Polandia sangat khawatir dengan sikap agresor Rusia akhir-akhir ini. Mereka berharap Perancis akan tetap pada jalurnya dan bukan sebagai penyokong sikap agresi Rusia.

Penjualan kapal perang ke Rusia oleh Perancis ini telah mendapatkan protes dari sekutu-sekutunya. Namun bagi Perancis, dinilai dari sudut ekonomi penjualan ini merupakan penjualan yang besar mengingat kontrak ini senilai USD 1,7 miliar dan melibatkan hingga 2.500 pekerjaan. Sekarang kontrak sudah ditandatangani dan uang sudah berpindah tangan, Perancis bukan hanya akan kehilangan semua uang itu jika membatalkan kontrak, tapi juga harus membayar denda miliaran dolar karena mengingkari kesepakatan.

Selain itu, industri galangan kapal Perancis nyaris mati suri dalam dekade terakhir. Saat ini perusahaan yang bertanggung jawab untuk membangun kapal ini adalah STX Perancis; 33 persen sahamnya dimiliki pemerintah, yang terus berusaha agar perusahaan ini terus beroperasi. Pemilik 66 persen saham lainnya adalah Korea yang bulan lalu sempat mengumumkan niatnya untuk menjual saham mereka. Dalam satu tahun, industri galangan kapal Perancis menerima pesanan sekitar USD 1,4 miliar untuk kapal komersial dan USD 2 miliar untuk kapal militer. Tentu saja uang Rusia sebesar USD 1,7 miliar ini akan sangat berarti bagi Perancis.

Keruntuhan dari industri perkapalan berarti juga harus siap kehilangan keahlian dan keterampilan kritis dari ilmuwan-ilmuwannya. Perencana pertahanan di seluruh dunia juga telah mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi galangan-galangan kapal di seluruh dunia saat ini. Industri pertahanan membutuhkan banyak manufaktur, teknologi dan keahlian khusus yang sulit dan lama untuk diperoleh dan juga akan sangat sulit menggantikannya bila semuanya hilang. Jika sebuah perusahaan pertahanan bangkrut, banyak sekali negara yang akan 'membajak' mantan-mantan karyawannya. Hal ini berarti bahwa ketika sebuah negara besar kehilangan industri pertahanannya dan ingin membangunnya kembali, maka bisa saja mereka akan memulainya lagi dari awal. Mungkin inilah alasan Perancis meluluskan penjualan Mistral kepada Rusia.

Sekarang dari sisi Rusia, mengapa negara ini membeli kapal perang dari Perancis. Pada tahun 2011, Lieutenant Commander Patrick Baker dari Angkatan Laut AS menyelesaikan tesisnya di Naval Postgraduate School tentang akuisisi Rusia atas kapal serbu amfibi kelas Mistral dari Perancis. Dalam tesisnya, dia menyebutkan bahwa Rusia mengumumkan ingin membeli kapal kelas Mistral tanpa disertai pengumuman bahwa mereka membutuhkan kapal seperti Mistral.

Bahkan Rusia tidak menyebutkan kemampuan kapal serbu amfibi seperti apa yang mereka butuhkan. Dengan armada kapal serbu amfibinya, Rusia memang sukses melaksanakan beberapa operasi amfibi beberapa tahun belakangan, seperti serbuan terhadap Georgia 6 tahun lalu. Tapi bagi Rusia ini bukanlah hal yang mengesankan, mengingat kekuatan tempur kedua negara jauh berbeda. Rusia jelas menginginkan kapal serbu amfibi yang lebih canggih yang siap mengatasi semua ancaman modern saat ini. Juga akan sangat menarik untuk kita lihat apakah Rusia ini akan melengkapi Mistral dengan sistem tempur lainnya, atau kapal ini akan dioperasikan Rusia dengan bentuk dan sistem aslinya dari Perancis.

Tesis Baker juga menunjukkan bahwa adalah hal yang super langka bagi Rusia untuk membeli kapal yang sama dua kali. Rusia adalah negara pembuat kapal perang,
bukan pembeli kapal perang.

Jadi menurut Baker, fakta bahwa Rusia membeli Mistral dari Perancis jelas menunjukkan bahwa Rusia memang tidak mampu membangunnya. Seluruh industri pertahanan Rusia kacau seiring runtuhnya Uni Soviet. Banyak fasilitas industri pertahanan yang hilang (menjadi milik negara pecahan Soviet) termasuk ilmuwan-ilmuwannya. Keruntuhan Uni Soviet telah menyebabkan Rusia banyak kehilangan kelembagaan dan pengetahuan hampir di semua bidang.

Desainer-desainer senjata Rusia dinilai memang masih mampu merancang teknologi senjata yang paling canggih di dunia, namun untuk membuatnya mereka kini kesulitan. Dan tidak terkecuali untuk membangun kapal-kapal perang besar dan canggih seperti Mistral. Fakta yang mungkin kita tidak sadari adalah bahwa Rusia belum pernah satupun membangun kapal serbu amfibi apalagi kapal induk baru. Dua jenis kapal itu yang kini dioperasikan Angkatan Laut Rusia adalah kapal warisan dari Uni Soviet.

Kapal Kelas Mistral bukan hanya kapal modern dan canggih, tapi juga memanfaatkan berbagai manufaktur dan arsitektur angkatan laut yang sangat modern dan berteknologi tinggi. Hal yang kurang dibahas media dalam kesepakatan Mistral adalah bahwa kapal-kapal berikutnya akan dibangun di Rusia. Ini berarti bahwa orang-orang Perancis saat ini mungkin sudah berada di Rusia, membantu menyiapkan fasilitas untuk pembangunannya.

Kerjasama jangka panjang ini berarti memberikan Rusia harapan memiliki kembali/menambah kemampuan untuk membangun kapal-kapal perang besar dan canggih. Sangat cocok untuk keinginan Rusia untuk bangkit kembali. Atau dengan kata lain, Rusia tidak akan membeli Mistral selain untuk memajukan industri perkapalannya.

Pertanyaannya, apakah imbas penjualan Mistral yang akan menghidupkan kembali kemampuan Rusia dalam membangun kapal perang besar sebanding dengan apa yang Perancis dapatkan? Yaitu untuk menjaga industri perkapalannya tetap hidup. Tentu saja NATO tidak suka akan hal ini. (Vice/Wiki/RIA Novosti) artileri.org