Jumat, 02 Mei 2014

Kh-29TE: Rudal Udara ke Permukaan Berpemandu TV Andalan Sukhoi TNI AU




Setelah hampir sepuluh tahun dalam penantian, akhirnya mulai tahun 2012 lalu armada Sukhoi Su-27/Su-30 Flanker TNI AU mulai mendapat asupan alutsista yang bergigi, setelah sebelumnya hanya beroperasi mengandalkan kanon internal dan bom konvensional buatan lokal. Ibarat tanpa basa basi, Sukhoi Skadron 11 yang bermarkas di Lanud Hasanuddin, Makassar – Sulawesi Selatan, kini sudah dibekali senjata pamungkas yang punya efek deteren sangat tinggi.

Diantara senjata Sukhoi yang sudah terungkap ke khalayak adalah elemen rudal udara ke permukaan (ASM/air to surface missile) Kh-31P dan Kh-29TE. Kh-31P (AS-17 Kyrpton – kode NATO), rudal ini masuk dalam golongan mediun range air to surface missile. Kh-31P dirancang untuk melumpuhkan sistem pertahanan musuh. Untuk itu rudal di desain memiliki kecepatan sangat tinggi, mampu terbang jauh, anti-radar dan bisa mematikan penjejaknya saat diserang. Meski didaulat untuk serang permukaan, rudal ini juga afdol untuk menghancurkan pesawat AWACS. Kh-31P mampu melaju hingga kecepatan 2,5 Mach dengan jangkauan hingga 110 km. Lebih detail tentang Kh-31P sudah pernah kami kupas di artikel sebelumnya. Indonesia pun tak sendiri sebagai pemilik rudal menyeramkan ini, Malaysia dan Vietnam tercatat juga memiliki Kh-31P.



Nah, hebatnya TNI AU juga berupaya serius untuk memberi efek getar pada segmen ASM, ini dibuktikan dengan telah hadirnya Kh-29TE. Dari segi peran, Kh-29 punya kemiripan dengan rudal AGM-65 Maverick buatan Raytheon Corporation,AS. Antara Kh-29 dan Maverick punya kesamaan, yakni hadir dengan beberapa varian dengan sistem pemandu (guidance) yang berbeda. Hanya saja dari segi dimensi dan bobot, Kh-29 jauh lebih tambun. Untuk rudal Maverick, TNI AU memiliki varian AGM-65G dengan pemandu infra red untuk jet F-16 A/B Fighting Falcon dan Hawk 100/200.

Kh-29TE
Kh-29 dalam kode NATO disebut AS-14 Kedge, dirunut dari sejarahnya bukan rudal keluaran yang baru-baru amat. Varian Kh-29 pertama (Kh-29L) sudah dibangun sejak era Uni Soviet. Rancangan awal Kh-29 dimulai sejak akhir tahun 1970, saat itu Kh-29 dirancang oleh biro desain Molniya di Ukrania. Baru di kemudian hari, pengembangannya dialihkan ke Vympel (Tactical Missile Corporation) di Rusia. Uji coba penembakan pertama berhasil dilakukan pada 1976, dan rudal ini resmi mulai diproduksi pada 1980.



Dari segi bobot, Kh-29 buka golongan rudal yang ringan, dari kesemua varian, beratnya berada diatas 600 kg. Yakni Kh-29L (660 kg), Kh-29T (685 kg), dan Kh-29TE (690 kg). Bobotnya yang besar tentu bukan tanpa alasan, rudal ini punya hulu ledak HE (high explosive) armour piercing dengan berat 320 kg. Hulu ledak dengan detonator impact target sensor ini dirancang untuk mampu menggasak sasaran yang tak sembarangan. Kh-29 digadang mampu mengancurkan target strategis, yang jadi santapan rudal ini adalah jembatan utama, instalasi pabrik, landasan pacu, shelter pesawat, bungker, bahkan rudal ini juga dapat mengkaramkan kapal permukaan yang bertonase 10.000 ton.

Untuk menuju sasaran, Kh-29 disokong mesin single-mode solid-fuel rocket yang mampu menghantarkan rudal hingga kecepatan 1.470 km/jam. Kh-29 ditawarkan dalam pilihan TV guidance, IR (infra red) guidance, dan laser guidance. Kh-29L menggunakan pemandu semi active laser, Kh-29T/TE menggunakan pemandu TV pasif, Kh-29D berpemandu infra red, dan Kh-29MP berpemandu active radar homing. Dan, untuk TNI AU seperti telah dijelaskan, mengadopsi varian Kh-29TE.

Untuk Kh-29TE masuk dalam kategori long range dengan jangkauan tembak antara 20 – 30 km. Sementara jarak tembak minimumnya 3 km. Rudal ini tak bisa diluncurkan sembarangan, batas minimum ketinggian untuk dilepaskannya rudal adalah 200 meter dari permukaan laut, sementara batas maksimum ketinggian dilepaskannya rudal yakni 10.000 meter. Kh-29TE pun punya versi yang lebih maju, yaitu Kh-29D, yang disebut-sebut sebagai rudal generasi keempat, mengambil platform Kh-29TE namun dengan penggantian pemandu imaging infra red, sehingga rudal dapat dilepaskan dalam moda fire and forget.

Di AsiaTenggara, Indonesia tak sendiri sebagai pengguna Kh-29TE, lagi-lagi AU Malaysia (TLDM) dan AU Vietnam juga sudah memiliki rudal serupa. Maklum saja, karena Malaysia punya Su-30MKM dan Vietnam punya Su-30MK2V. Lain dari itu, Kh-29 sudah banyak digunakan oleh negara-negara kawan dekat Rusia. Uniknya Kh-29 bisa juga dilepaskan dari jet tempur barat, yakni dari Mirage F1 yang dirancang khusus oleh AU Irak. Kiprah aksi tempur rudal ini sudah malang melintang dalam perang Iran –Irak  di dekade 80-an. (Haryo Adjie)
Spesifikasi Kh-29TE
 
Desainer : Matius Bisnovat dan Georgiy I. Khokhlov
Manufaktur : Vympel/ Tactical Missiles Corporation
Berat : 690 kg
Berat hulu ledak : 320 kg
Mekanisme peledakan : Impact target sensor
Panjang : 3,9 meter
Diameter : 0,4 meter
Wingspan : 110 centimeter
Kecepatan : 1.470 km/jam
Jangkauan maks : 30 km
Ketinggian peluncuran minimum : 200 meter
Ketinggian peluncuran maksimum : 10.000 meter
Tenaga : single-mode solid-fuel rocket engine


Kamis, 01 Mei 2014

Peristiwa Kelahiran LAPAN

Lapan atau Lembaga Penerbangan dan Antariksa lahir pada tahun 1963. Ada tiga kronologi pembentukan Lapan yaitu Pada 31 Mei 1962 dibentuk panitia Astronautika oleh Menteri Pertama RI, IR. Djuanda selaku Ketua Dewan Penerbangan RI dan R.J. Salatun selaku Sekertaris Dewan Penerbangan RI. Yang kedua pada 22 September 1962 terbentuk Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) Afiliasi AURI dan ITB. Dan terakhir 27 November diterbitkan Kepres Nomer 236 Tahun 1963 tentang Lapan.
Sputnik 1
Untuk dapat memahami kondisi terbentuknya Lapan, mari kita ke tahun 1957-1958 yg merupakan tahun Geofisika Internasional (International Geophysical Year atau IGY), dimana untuk pertama kali negara-negara sedunia melakukan penyelidikan lingkungan alam secara stimultan dan terkoordinasi. Hasilnya, pada tahun 1957 satelit pertama buatan manusia “Sputnik 1″ berhasil diorbitkan. Satelit Sputnik 1 dengan teknologi sederhana dan kemampuannya pun hanya memancarkan sinyal dengan frekuensi 20,005 dan 40,002 MHz.Sputnik dilontarkan dengan roket dua tingkat R-7 Semyorka Uni Soviet.

R-7 Semyorka
Kejadian tersebut merangsang imajinasi masyarakat dengan demam antariksa. Demam antariksa ditandai dengan timbulnya “gendrang peroketan” serta munculnya kelompok-kelompok bereksperimen salah satunya di Indonesia yaitu mahasiswa dan ABRI.

Sebagai tanggapan atas perkembangan zaman serta merintis aktifitas keantariksaan , pada tahun 1962 Ketua Dewan Penerbangan (alm) Ir. H. Djuanda membentuk Panitya Astronautika yg dusahkan pada 14 Desember dan aktif awal tahun 1963. Kepanitian ini terdiri dari para wakil departemen :
  • AURI oleh Letkol Imam Sukotjo dan Mayor Kirono
  • Perhubungan Udara oleh Ir. Karno Barkah dan Drs M. Sukanto
  • Urusan Riset Nasional oleh Dr The Pik Sin
  • Perguruan tinggi dan Ilmu pengetahuan oleh Prof Sutardi Mangundojo
  • Dan Luar Negeri oleh Mr. Nugroho
Ada 5 tugas pokok yg diberikan termasuk mengejar ketertinggalan Indonesia di antara negara-negara berkembang lainnya dalam hal keantariksaan. Dan perlu diketahui dalam pembatasan-pembatasan di panitia Astronautika terungkap bahwa program IGY negara kita dimasukan dalam kategori “black area” atau daerah hitam. Sementara itu, beberapa negara berkembang seperti India, Pakistan dan Mesir sudah lebih dulu melangkah ke bidang antariksa seperti Mesir yg dibantu sarjana-sarjana Jerman dalam bidang roket balistik dan satelit .
DSC_0267

Pada 22 September 1962 berdiri PRIMA (Pengembangan Roket Ilmiah dan Militer Awal) yg diisi afiliasi AURI dan ITB. Pembentukan PRIMA karena penundaan studi roket Kappa-8 buatan Jepang karena masalah di devisa ekspor. Akhirnya tim PRIMA mengembangkan secara swasembada dan berhasil  membuat Kartika I, roket dengan booster berdiameter 235 mm yg dikerjakan di oleh mesin extrusi milik Pindad. Pembiayaan PRIMA dibebankan pada anggaran belanja AURI. Untuk sistem telemetri Kartika I dikembangkan depot Elektronika AURI Margahayu.

Sementara Kartika I dikerjakan, sebagai pimpinan pertama Lapan adalah Dirjen Lapan Komodor Udara Nurtanio Pringgoadisurjo, Wakil Dirjen Letkol Imam Sukotjo, Wakil II Dirjen Ir. Karno Barkah, Wakil III Dirjen Dr Kusumanto Purbosiswojo dan Wakil IV Dirjen Prof Ir Suhakso.

Roket Kartika
Pembuatan Kartika I menghabiskan waktu selama 7 bulan dan pada 14 Agustus 1964 roket ini meluncur mulus dari Pameungpeuk. Dalam uji cobanya Kartika I hasilnya berhasil merekam siaran satelit cuaca Tiros milik Amerika. Menurut majalah Electronics terbitan Amerika, Indonesia adalah negara kedua setelah India yang berhasil merekam siaran Tiros dengan alat penerima buatan sendiri.
Hideo Itokawa with the Kappa-8L Rocket (1962)
Saat tim PRIMA sedang dibuat sibuk dalam pengerjaan roket Kartika I, upaya mendatangkan teknologi asing yakni Roket Kappa-8 makin menemukan titik kejelasan.  Hubungan baik dengan Prof Dr. Hideo Itokawa-Ilmuwan Jepang perancang pesawat tempur yg kemudian menjadi perintis peroketan Jepang kemudian direstui (alm) Ir. H. Djuanda.
Kappa-8 meluncur pada Agustus 1965 dengan mencapai ketinggian 364 km dan merupakan roket pertama di bumi Indonesia yg berhasil memasuki wilayah antariksa. Roket ini juga memberikan makna lain setelah data ilmiahnya disumbangkan kepada program International Quiet Sun Year (1964-1965).
Berikut adalah sejarah kelahiran Lapan, ada satu kiasan dari mantan Presiden India Abdul Karim (2002-2007) : “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai antariksa”. Visi Lapan yaitu Terwujudnya Kemandirian dalam Iptek Penerbangan dan Antariksa untuk meningkatkan Kualitas Kehidupan Bangsa. Jika nantinya Lapan berhasil mengorbitkan sendiri Satelit karya anak bangsa maka bangsa kita akan diperhitungkan dunia Internasional.
Perbedaan Anggaran Lapan dengan Malaysia dan India
Untuk itu diperlukan komitmen Nasional agar pengembangan ini bisa tercapai baik Pemerintah, Peneliti, Industri Strategis dan tentunya adalah masyarakat Indonesia. Saat ini sebagai penulis saya sangat sedih dengan kenyataan yg terjadi seperti adanya Political Will dalam pengembangan, anggaran yg tidak menunjukan komitmen dan kurangnya pengetahuan masyarakat kita tentang ilmu antariksa. Yuk kita berdoa, semoga para peneliti kita diberikan ketabahan untuk terus mengembangkan dan mengejar ketinggalan kita dan juga menjadikan negara kita sebagai bangsa yg diperhitungkan. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan yg baik dan selalu menjaga peneliti kita, Amiieenn…
(Jalo and Friends)


Dos Mujeres Un Camino, Tentang LCS



Semburat jingga di cakrawala, memantulkan cahaya merah tembaga pada daun-daun kelapa, air laut pantai senja dan rumpun-rumpun mega. Anginnya mendesir dingin, menyusup diantara tabir-tabir kota gelap dan lembab. Kami sedang berada di hotel resort itu untuk menantikan sambutan dari seorang petinggi dalam kabinet pemerintahan Malaysia.

Sebelum datang ke tempat itu, isteri saya dan teman-teman di KBRI berpesan agar saya tidak berkomentar apapun dalam acara yang digelar sebagai bentuk syukuran dan terima kasih yang mendalam dari kerajaan, atas suksesnya penyambutan kunjungan kenegaraan Mr. President, Barack Obama. Sungguh luar biasa, kunjungan yang telah dinanti-nanti selama bertahun-tahun ini, selain dirasakan amat membanggakan, juga sangat penting bagi memantapkan kembali posisi Malaysia dalam kancah hubungan internasionalnya.

Di tengah semakin redupnya reputasi pemerintahan Najib Tun Razak, kunjungan Obama ke Malaysia diharapkan akan mampu menjadi sebuah wahana komunikasi yang efektif, sekaligus juga mampu menjadi media propaganda politik dalam negerinya, untuk menegaskan kembali pada segenap rakyat Malaysia, bahwa pemerintahan sang PM pada penggal keduanya ini, masih memiliki legitimasi lokal yang utuh dan kuat, di samping terus adanya dukungan dan perhatian dunia internasional. Ini merupakan anugerah terselubung di sebalik penundaan beberapa kali kunjungan Obama ke Malaysia.

Di tengah fenomena Asia Tenggara yang sedang tumbuh menjadi kawasan yang amat mempesona, yang ditandai oleh adanya dinamika politik di Thailand dan Indonesia, Malaysia menyampaikan minat dan ketertarikannya pada dunia untuk menjadi role model bagi stabilitas politik, kesejahteraan rakyat dan perkembangan ilmu pengetahuan di kawasan. Malaysia berharap bisa mengambil keuntungan yang sebanyak-banyaknya, walaupun agenda yang ditawarkan terkesan usang. Peningkatan peran aktif PBB disaat negara-negara besar mulai menjauhi PBB, dan isu dunia yang bebas nuklir, disaat fokus dunia tidak sedang bertumpu pada nuklir.

Satu-satunya agenda cerdas yang patut diacungi jempol adalah kejelian Malaysia dalam melihat peluang dalam sektor industri keuangan syariah. Amerika yang masih tertatih-tatih dalam belenggu krisis yang dihadapinya, telah mampu dijabarkan sebagai peluang besar yang amat menjanjikan. Malaysia telah menawarkan pengalaman, tenaga ahli dan tentu saja potensi pasar terbesar mereka; Indonesia..! Mereka siap membuka diri untuk kehadiran USA menjadi salah satu pemain besar dalam industri keuangan syariah dunia.

Terlepas dari permasalahan tersebut, Malaysia juga ternyata ingin berkeluh kesah dengan Amerika, tentag sikap keras China yang enggan membuka pintu negosiasi bagi kasus claim wilayah di Laut China Selatan. China bersikukuh hanya akan membuka pintu diplomasi bagi usaha kerjasama, bukan untuk membagi-bagi wilayah kekuasaan. Sikap ini tentu saja sangat bertentangan dengan spirit yang diusung Kuala Lumpur. Setelah pada tahun 2003, mereka secara gemilang mampu mengambil alih kepemilikan pulau Sipadan dan Ligitan dari Indonesia berkat campur tangan Inggris, maka sejak saat itu pula, mereka begitu yakin akan mampu menguasai wilayah-wilayah sengketa lainnya.

Namun apa lacur, kepongahan dan pesta kemenangan atas penguasaan pulau Sipadan dan Ligitan, yang meninggalkan luka mendalam di seluruh benak rakyat Indonesia, harus dibayar mahal oleh Malaysia. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2009, secara berturut-berturut Malaysia harus menangisi lepasnya Batu Puteh ke pangkuan Singapore, dan sebuah wilayah yang kaya akan minyak berkualitas tinggi, Limbang, harus rela menjadi milik kesultanan Brunei Darussalam. Ironisnya, justru Inggris jualah yang berada di balik kekalahan Malaysia. Sebelumnya, Petronas memberikan konsesi migas pada perusahaan USA, dan Inggris merasa keberatan karena perusahaannya gagal dalam lelang tender. Dengan berpindahnya kepemilikan Limbang kepada Brunei, maka hak konsesi migasnya pun akan turut berpindah.

Jika untuk memiliki Sipadan dan Ligitan, Malaysia harus mati-matian menghadapi Indonesia di meja perundingan, bahkan ada isu hina yang menyebut konon kerajaan Malaysia harus menggelontorkan dana untuk pemulihan krisis ekonomi di Indonesia, yang jumlahnya hingga mencapai lebih dari satu miliar ringgit.

Pertanyaannya sekarang, untuk melepaskan Limbang dan Batu Puteh pula, berapa banyakkah uang yang digondol oleh para petinggi kerajaan dan pemerintah Malaysia? Satu hal yang sangat memalukan, bahkan lepasnya kedua wilayah teritorial tersebut, justru tidak melalui perundingan dan perdebatan di meja mahkamah internasional. Keduanya lepas hanya sebatas melalui sidang kabinet, bukan sidang parlemen..! Sebuah fakta ironis yang hingga kini dipandang oleh setiap warga negara Malaysia sebagai sebuah najis.! Hehehe..!. Sejak saat itu, keharmonisan hubungan antara Malaysia dengan Singapore dan Brunei, kian memudar dan rapuh. Wujud the Golden Triangle, telah berubah menjadi the Broken Triangle. Kita ketahui kemudian Singapore kian intim di bawah ketiak induknya, dan Brunei selain dekat dengan Inggris, juga justru dipandang Malaysia sangat menyebalkan, karena lebih merapat ke Indonesia..!

Malaysia menjadi seperti orang tua pikun yang ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya. Setiap ucapannya dianggap igauan, dan cita-citanya hanya sebuah khayalan. Kunjungan Panglima TNI ke China baru-baru ini, ternyata dinilai lebih produktif karena mampu menghasilkan nilai-nilai strategis, jika dibandingkan dengan hasil kunjungan Menhan Malaysia ke USA. Kenyataan ini membuat Malaysia menjadi seperti orang yang terbangun dari tidur karena disirami air panas, kleyengan dan tidak punya arah pikiran. Kasihan..!

Kembali ke LCS. Sebagai negara yang over confident dengan kebesaran negerinya, Malaysia merasa kecewa dengan sikap yang ditunjukan tetangga-tetangganya di Asean. Philipines yang selama ini mendapatkan dukungan penuh Kuala Lumpur dalam menghadapi konflik Moro di negaranya, justru lebih memilih beraliansi dengan Vietnam dalam menghadapi sengketa LCS.

Akal sehat Philipines menuntun pada kemungkinan yang lebih rumit jika mereka memiliki hubungan yang lebih akrab dalam konflik LCS. Dia sadar, kelak Inggris akan menggerus dan menghabisinya. Begitupun dengan Brunei yang gagal didekati. Alih-alih mau bergabung, Brunei malah terang-terangan merapat pada Indonesia, yang sebelumnya sukses menerapkan code of conduct untuk wilayah LCS. Brunei merasa tidak memiliki hubungan langsung dengan konflik LCS, meskipun mereka juga masih harus berhadapan dengan China, tapi hanya sebatas pada klaim China terhadap secuil wilayah ZEE yang tertuang dalam the 9 dash line. Ternyata masalah ini, sangat mirip dengan Indonesia di kawasan ZEE pulau Natuna. Untuk itu, Brunei pun dengan segera memutuskan diri untuk segera menjadikan Indonesia sebagai partner yang ideal. Gayung pun bersambut, 3 kapal light fregat Nakhoda Ragam Class dilepas dengan harga yang terbilang sangat murah, bahkan terkesan diobral. Lagi-lagi, Malaysia pun gigit jari.

Karena sudah merasa sendirian, dengan terpaksa akhirnya Malaysia pun tebar pesona dengan Amerika. Meskipun disadari sepenuhnya bahwa mereka tidak akan pernah menjadi anak emas Amerika di Asia Tenggara. Point utama yang diincar Malaysia, tiada lain, dengan adanya dukungan USA, maka bisa diharapkan akan mampu meningkatkan bargaining power Malaysia, sehingga diharapkan juga bisa membantu Malaysia dalam usaha menguasai sebagian atau bahkan seluruh wilayah yang sedang dipersengketakannya di LCS.

Jika China benar-benar hanya menginginkan kerjasama dengan negara-negara claimant, setidaknya Malaysia bisa berharap atas jatah yang jauh lebih besar. Dengan dinamika yang ada, seyakin apakah kita terhadap meletusnya perang terbuka di LCS? Ingat, semua negara pemilik kuasa hak veto ada di sana. China berdiri di utara, Perancis di Hanoi, Inggris di Malaysia dan Brunei, USA di Manila, Brunei dan juga KL, yang terakhir, dan justru yang paling mengkhawatirkan adalah dengan hadirnya Russia di Jakarta..!

Percaya atau tidak, jika kelak mereka akan lebih memilih jalan kompromi, dengan prinsip daripada buang-buang peluru, lebih baik kita jualan peluru..! Puluuuus..! Jika dengan berbagi masih bisa hidup kenyang, kenapa kita harus mati karena kekenyangan? Hehehe..! Ingat, 20 miliar ton minyak, dengan 8% kehidupan ikan dunia yang ada di dalamnya, adalah jumlah yang sangat besar..! Selamat menikmati Bung..! (by; yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 01 May 2014).
 

Alutsista Andalan Buatan Anak Negeri



VIVAnews - Ini kabar baik bagi industri pertahanan nasional. Tentara Nasional Indonesia (TNI)  Angkatan Darat (AD) baru saja meluncurkan Kapal Motor Cepat (KMC). Kapal yang diberi nama "Komando" itu asli buatan dalam negeri.
Peluncuran yang digelar di Pantai ABC Ancol, Jakarta, Selasa 29 April 2014, ditandai dengan demonstrasi, manuver dan uji tembak KMC 'Komando'. Disaksikan langsung Kepala Staf AD (KSAD) Jenderal Boediman.

Kapal ini merupakan hasil karya anak negeri. Dari tangan ahli yang terdiri dari para perwira Direktorat Pembekalan dan Angkutan (Ditbekang) TNI-AD dengan melibatkan tenaga ahli dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan tenaga pelaksana pembangunan PT Tesco Indomaritim.

"Kami sudah beli 10 unit. Per unit seharga Rp 12 miliar sudah termasuk biaya riset dan pembangunannya," kata Jenderal Budiman.

Dari sepuluh unit KMC Komando itu, bulan ini baru dua unit yang telah selesai diproduksi. Selebihnya, akan selesai pada akhir bulan depan. Kata Budiman, harga produksi kapal motor ini jauh lebih murah ketimbang membeli kapal sejenis dari luar negeri.

Kapal ini akan didistribusikan ke sembilan Komando Daerah Militer, yakni Kodam Iskandar Muda, Kodam Bukit Barisan, Kodam Sriwijaya, Kodam Mulawarman, Kodam Wirabuana, Kodam Udayana, Kodam Tanjungpura, Kodam Patimura, dan Kodam Cendrawasih.

Daerah operasi kapal ini meliputi rawa, laut, sungai, dan pantai. Kapal ini juga bisa digunakan untuk pendaratan pasukan di pantai dan mampu berlayar terus menerus sejauh 250 NM (mil laut).

KMC berkapasitas 31 penumpang dan tiga ABK. Kecepatan maksimum kapal ini mencapai 35 knot. Tapi, untuk pengembangan berikutnya, kecepatan akan ditambah.

"Tahun 2015 nanti, kecepatannya akan ditambah menjadi 45 knot. Harus lebih cepat dari sekarang, karena pertempuran ke depan memerlukan kecepatan dan akurasi. KMC Komando terus akan kami kembangkan," kata Jenderal Budiman.

Untuk persenjataan, kapal ini dilengkapi dengan sistem senjata mesin berat (SMB) dengan jenis peluru 17,5 milimeter yang mampu menembak hingga 6 kilometer dengan jarak efektif tembakan 2 kilometer. "Dengan begitu, posisi penembak lebih aman," kata dia.

Bukan cuma itu, kapal ini juga memiliki dengan sistem tracking and locking target. Sistem tersebut mengatur penggunaan senjata secara otomatis yang dikendalikan oleh seorang penembak dari dalam ruang kemudi.

Minim Alat
Wilayah Indonesia begitu luas. Sarana penunjang sudah menjadi keharusan. Itulah yang diinginkan KSAD Jenderal Budiman.
"Jujur, kadang-kadang kami sedih melihat prajurit yang bertugas di wilayah pesisir dan terpencil. Mereka mengalami keterbatasan transportasi," kata Budiman.

Meski terkadang mendapatkan pinjaman kapal pengangkut pasukan dari satuan di atasnya, seperti Komando Militer wilayah setempat, namun kendala teknis sering tak teratasi.

Tak jarang, kapal yang dipinjamkan itu justru tidak dapat digunakan karena medan perairan yang dilalui terlalu dangkal. Sedangkan kapal yang ada rata-rata untuk perairan dalam.

Dia khawatir, ketidakmampuan TNI dalam menunjang sarana operasi anggotanya, dimanfaatkan pihak lain yang justru akan merugikan kedaulatan bangsa. "Kami memikirkan tentara yang berada di wilayah kecil (Kepulauan) ini, jangan sampai dibiayai oleh pihak lain (asing)," kata dia.

Oleh karena itulah, kata Budiman, pihaknya melakukan kerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan PT Tesco Indomaritim, untuk mengembangkan teknologi KMC Komando. Kapal yang dapat digunakan di permukaan air dengan kedalaman hanya satu meter.

Geliat produksi anak negeri
Kita patut berbangga. Anak bangsa sudah bisa memproduksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) sendiri. Sehingga, tidak terlalu bergantung pada negara lain.


 
Menurut Wakil Menteri Pertahanan, Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, pertahanan Indonesia di level menengah memang menggunakan produk dalam negeri selama ini, yaitu hasil produksi PT Pindad.

"Kapal combatant dan kapal angkut buatan PT PAL juga sudah digunakan," kata Sjafrie di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu 5 Februari 2014.

Kata dia, saat ini PT Pinpad sudah memproduksi 250 panser Anoa dan puluhan ribu senjata api dan pistol yang sesuai standar TNI.


Bahkan, kata dia, beberapa alutsista sudah diekspor ke sejumlah negara ASEAN. Beberapa negara ASEAN sudah mencapai proses nego terkait pembelian alutista buatan Indonesia. Misalnya, Brunei Darussalam dan Malaysia ingin membeli panser. Kedua negara itu, kata Sjafrie, juga tengah mengobservasi pesawat CN 25.

Sementara itu, Arab Saudi dan Korea Selatan sudah membeli pesawat jenis Boeing 235. "Ini cukup membanggakan untuk pesawat 235 dan 295. Sayap dan radar pesawat itu buatan Bandung," ujar Sjafrie.

Sjafrie mengatakan, industri pertahanan Indonesia memang sudah mampu memenuhi tingkat menengah. Namun, saat ini, Indonesia masih harus mengimpor alutsista tingkat tinggi, seperti pesawat tempur, kapal tempur, dan kapal selam.

Meski begitu, Sjafrie yakin, dalam 10 tahun mendatang, Indonesia sudah mampu membuat alutsista tingkat tinggi. "Dalam 10 tahun lagi bisa membuat kapal tempur sendiri," ujar dia.

Produk Unggulan
Kebangkitan industri pertahanan dalam negeri bukan pepesan kosong. Buktinya, sejumlah negara mulai tertarik menggunakan alutsista buatan Indonesia. Sebut saja Irak.

Persenjataan buatan Indonesia dinilai tepat untuk keperluan Irak. Selain harga bersaing, kualitas juga boleh diadu. Senapan Serbu 2 (SS2) produksi Pindad misalnya, telah sukses mengantar TNI beberapa kali juara lomba menembak tingkat Asia-Pasifik.

Pada lomba tembak internasional di Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2012, Indonesia juara. Para jago tembak dari TNI Angkatan Darat mengalahkan tuan rumah Australia, dan juga negara besar seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Selandia Baru.

Selain senapan serbu, Baghdad juga terpincut panser Anoa. Kendaraan lapis baja itu  dinilai cocok untuk perkotaan.

"Letak geografis Irak menjadi alasan pihak pemerintah Irak jatuh hati pada SS2 dan Anoa," ujar Direktur Utama PT Pindad Adik A. Soedarsono.

Dua negara tetangga, Brunei dan Malaysia, pun jatuh hati pada panser Anoa buatan Indonesia. 
 
Berikut produk unggulan dalam negeri :

CN 235 Maritime Patrol Spesifikasi
Kru : 2 pilot
Kapasitas : 45 penumpang
Panjang : 21,40 m
Bentang sayap : 25,81 m
Tinggi : 8,18 m
Area sayap : 59,1 m2
Berat kosong : 9800 kg
Berat isi : 15.100 kg
Maksimum berat : 15,100 kg
Tenaga penggerak : 2xGE CT79  1,395 kW (1850 bhp)
Kecepatan max : 509 km/jam
Jarak : 796 km
Daya menanjak : 542 m/menit

Senapan Serbu SS1 dan SS2
Spesifikasi SS1
Berat : 4,01 kg
Panjang : 997 mm
Peluru : 5,56 x 45 mm
Mekanisme : operasi gas, bolt berputar
Rata tembakan : 700 butir / menit
Kecepatan peluru : 710 m/s
Jarak efektif : 450 m
Amunisi : magazin bos 30 butir
Alat bidik : besi dan teleskop

Spesifikasi SS2
Berat kosong : 3,2 kg
Panjang : 930 mm
Panjang laras : 460 mm
Peluru : 5.56 x 45 mm
Mekanisme : piston gas, bolt berputar
Rate tembakan : 700 butir / menit
Kecepatan peluru : 710 m/s
Jarak efektif : 450 m
Amunisi : magazin bos 30 butir
Alat bidik : besi

Panser Anoa
Berat : 11 ton, 14 ton (combat)
Panjang : 6 m
Lebar : 2,5 m
Tinggi : 2,5 m/2,9 m (varian FSV)
Awak : 3 plus 10 penumpang
Tempur : lapis baja Monpcoque
Senjata utama : Senapan mesin 12,7 mm, granat CIS 40 AGL
Senjata pelengkap : 2x3 66 mm peluncur granat
Jenis mesin : Renault MIDR 062045 diesel turbo 6 silinder
Daya kuda/ton : 22,85 HP/ton
Transmisi : otomatis, ZF S6HP602
Suspensi : Independen
Ground clereance : 40 cm
Kapasitas tangki : 200 liter
Daya jelajah : 600 km
Kecepatan : 90 km/jam